Nama :
Corry Anggraini
NIM :
ACC 114 017
Mata Kuliah : Strategi belajar Mengajar
1.
Model Pembelajaran Inquiry (menemukan)
Pembelajaran
berdasarkan inquiry merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa
sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini
siswa berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam,
mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan
melakukan pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis
data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model,
atau setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas.
Sund,
seperti yang dikutip oleh Suryosubroto dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa,
Inquiry merupakan perluasan proses discovery, yang digunakan lebih
mendalam, inkuiry yang dalam bahasa InggrisInquiry berarti
pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum
yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.
Gulo, (2005)
menyatakan bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar
yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka
dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Sasaran
utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah :
1. Keterlibatan
siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
2. Keterarahan
kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
3. Mengembangkan
sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Kondisi Umum
yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah :
1. Aspek
sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi.
2. Inkuiri
berfokus pada hipotesis
3. Penggunaan
fakta sebagai evidensi (informasi, fakta )
Untuk
menciptakan kondisi seperti itu, peranan guru adalah sebagai berikut:
1. Motivator,
memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berfikir.
2. Fasilitator,
menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan
3. Penanya
, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat
4. Administrator,
bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan kelas
5. Pengarah,
memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan
6. Manajer,
mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas
7. Rewarder,
memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.
Pembelajaran
inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah
kedalam waktu yang relative singkat, Hasil penelitian Schlenker dalam joice dan
weil (1992) menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman
sains, produktif dalam berfikir kreatif dan siswa menjadi trampil dalam
memperoleh dan menganalisis informasi.
Konsep Dasar
Strategi Pembelajaran Inquiry
Strategi
pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan
sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan
(Sanjaya, 2009). Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya
jawab antara guru dan siswa.
Menurut
Sanjaya (2009) bahwa strategi pembelajaran inquiry, memiliki beberapa ciri
utama, yaitu:
1. Strategi Inquiry menekankan pada
aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi
inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran siswa
tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara
verbal, akan tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah
pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat
menumbuhkan sifat percaya diri. Dalam strategi pembelajaran inquiry, guru bukan
sebagai sumber belajar tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
3. Tujuan dari penggunaan strategi
pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis,
logis dan kritis.
Strategi
Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
1. Guru mengharapkan siswa dapat
menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
2. Jika bahan pelajaran yang akan
diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi,akan tetapi sebuah
kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Jika proses pembelajaran berangkat
dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4. Jika akan mengajar pada sekelompok
siswa yang rata-rata memiliki kemamuan dan kemampuan berpikir.
5. Jika siswa yang belajar tak terlalu
banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6. Jika guru memiliki waktu yang cukup
untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Prinsip–prinsip
Penggunaan Inquiri
Ada beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan inquiri menurut Sanjaya
(2009).
1. Berorientasi pada pengembangan
intelektual
Tujuan utama dari strategi inquiri adalah pengembangan
kemampuan berfikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain
berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena
itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi
inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran,
akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.
2. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses
interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru
bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi
berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur
lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan
model inquiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab
setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berfikir.
4. Prinsip Belajar untuk Berfikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan
tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think) yakni
proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan.
Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
5. Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang
menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan
kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan
kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran
hipotesis yang diajukan.
Pelaksanaan
Pembelajaran Inkuiri
Gulo (2005)
menyatakan bahwa, inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual
tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan
keterampilan.
Secara umum
proses pembelajaran SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina
suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap
orientasi ini adalah:
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil
belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan
yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini
dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari
langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
c. Menjelaskan pentingnya topik dan
kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar
siswa.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa
pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah
persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam
rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban
yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam
pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan
memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental
melalui proses berpikir.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu
permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji
kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan
kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai
pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara
atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu
permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi
yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran
inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan
motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan
kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan
pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan
berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya
berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan
dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan
temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai
kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana
yang relevan.
Langkah –
langkah menerapkan model pembelajaran inquiry didalam kelas :
1. Membentuk kelompok-kelompok inkuiri.
Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektal dan
keterampilan-keterampilan sosial.
2. Memperkenalkan topik-topik inkuiri
kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat
mempelajarinya.
3. Membentuk posisi tentang kebijakan
yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan.
Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.
4. Merumuskan semua istilah yang
terkandung di dalam proposisi kebijakan.
5. Menyelidiki validitas logis dan
konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.
6. Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk
menunjang unsur-unsur proposes.
7. Menganalisis solusi solusi
yang diusulkan dan mencari posisi kelompok.
8. Menilai proses kelompok.
Kemudian
pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi
guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada
siswanya.
Ketiga jenis
pendekatan inkuiri tersebut adalah:
1. Inkuiri Terbimbing (guided
inquiry approach)
Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri
dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal
dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan
permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini
digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan
inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan
dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran.
Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk
diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu
menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung
akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru
banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut
dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri.
Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi
arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran
matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja
siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus
memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan
petunjuk-petunjuk dan scafoldingyang diperlukan oleh siswa.
2. Inkuiri Bebas (free inquiry
approach)
Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang
telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan
inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan.
Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan
menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah
yang diperlukan. Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit
diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan
belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan
masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah
lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi
jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi
yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang
diselidiki. Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan,
antara lain:
a. Waktu yang diperlukan untuk
menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah ditetapkan
dalam kurikulum,
b. Karena diberi kebebasan untuk
menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang
diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam kurikulum,
c. Ada kemungkinan setiap kelompok atau
individual mempunyai topik berbeda, sehingga guru akan membutuhkan waktu yang
lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa,
d. Karena topik yang diselidiki antara
kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan kelompok atau individual
lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual
tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan (modified
free inquiry approach)
Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi
dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing
dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan
topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang
telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau
menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar
dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap
memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri
terbimbing dan tidak terstruktur.Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru
membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara
mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya.
Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka
bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh
yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan
siswa dalam kelompok lain.
2.
Kontruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah kontruksi (bentukan)
kita sendiri. Para konstruktivis menjelaskan bahwa satu-satunya alat yang
tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indrannya.
Seseorang berinteraksi dengan objek lingkungannya melihat, mendengar, menjamah,
mencium, dan melaksanakannya. Dengan sentuhan indrawi itu seseorang membangun gambaran
duniawinya.Model pembelajaran konstruktivisme adalah suatu model pembelajaran
yang dirancang yang mengharuskan terjadinnya proses belajar peserta didik yang
proaktif. Menurut penganut konstruktivisme pengetahuan di bina secara aktif
oleh seseorang yang berpikir . Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan
fasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan
imformasi baru atau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau
pengalaman yang telah dimilikinnya melalui interaksi sosial dengan peserta
didik lain atau dengan gurunya.
Menurut Schuman dalam Yulaewati (2004:54)
konstuktivisme dikemukakan dengan pemikiran bahwa semua orang membangun
pandangannya terhadap dunia melalui pengalaman individual, atau skema.
Konstruktivisme menekannkan pada penyiapan peserta didik untuk menghadapi dan
menyelesaikan masalah dalam situasi yang tidak tentu.
Manfaat model pembelajaran
kontruktivis antara lain:
a.
Membina peserta didik menjadi
lebih mandiri.
b.
Mengembangkan daya kreatifitas
peserta didik karena ia harus memperlihatkan hasil
belajar atau karyannya
c.
Berlatih bekerja sama dengan
tim anggota peserta didik lainnya (prawiradiaga 2007:5)
Menurut Tyler dalam Sumatowa
(2006:54) menyatakan beberapa kebaikan pembelajaran berdasarkan konstruktivisme
yaitu:
1)
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit
dengan menggunakan bahasa siswa sendiri. Berbagi gagasan dengan temannya. Dan
mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2)
Memberikan pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa
atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siwa
memperluas pengetahuan-pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki
(diberi) kesempatan untuk merangkai fenomena. Sehingga siswa
didorong untuk membedakan untuk memebedakan dan memadukan gagasan tentang
fenomena yang menantang siswa.
3)
Memberi kesempatan siswa untuk berpikir tentang pengalamannya agar siswa
berpikir kreatif, imajinatif, mendorong merefleksi tentang teori dan model,
mengenalkan gagasan IPA pada saat yang tepat.
4)
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa
terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri untuk menggunakan berbagai konteks
baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnnya memotivasi siswa untuk
menggunakan berbagai strategi belajar.
5)
Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan-perubahan gagasan mereka setelah
menyadari kemampuan mereka serta memberi kesempatan untuk mengidentifikasi
perubahan gagasan mereka.
6)
Menberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapakan
gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu “jawaban yang
benar”.
Adapun langkah-langkah model
pembelajaran konstruktivisme antara lain:
|
NO
|
Fase
|
Kegiatan/tingkah laku
|
|
I
|
Fase Eksplorasi
Dalam fase ini seorang guru
memancing pengetahuan awal siswa mengenai materi yang akan dipelajari pada
saat itu
|
1)
Guru memancing pengetahuan awal siswa melalui cerita yang diberikan
2)
Guru melakukan Tanya jawab dengan siswa mengenai perubahan kenampakan pada muka
bumi
3)
Guru mengenalkan berbagai mecam benda yang ada di atas mejannya
|
|
II
|
Fase Klarifikasi
Pada fase ini imformasi
berupa pengetahuan awal siswa diperdalm agar bias menambah pengetahuan siswa
mengenai materi yang dipelajari
|
1)
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
2)
Guru membimbing masing-masing kelompok dalam melakukan kegiatan praktis
mengenai parubahan
kanampakan pada bumi
3)
Masing-masing kelompok membecakan hasil diskusinnya
4)
Guru dan siswa menyimpilkan hasil diskusinya yang telah dipelajari
5)
Guru memberikan penghargaan kelompok
|
|
III
|
Fase Aplikasi
Pada fase ini guru
mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dipelajari agar bias
mengetahuai apakah perencanaan sesuai dengan pelaksanaan.
|
1)
Guru mengevaluasi kegiatan pembelajaran
2)
Melaksanakan kegiatan tindak lanjut
|
Hubungan
konstruktivisme dengan beberapa teori belajar
Seperti sudah dijalaskan
diatas bahwa prinsip-prinsip konstruktivisme antara lain:
a. Pengetahuan di bangun sendiri oleh siswa baik secara personal maupun social
b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan oleh guru ke murid kecuali hannya
dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
c. Murid akan mengkontruksi terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep.
d. Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses kontruksi
siswa berjalan lancar. inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar
yaitu:
Konstruktivisme juga sangat
erat hubungannya dengan beberapa teori belajar diantarannya :
a.
Teori
Perubahan Konsep
Menurut
posner Dkk (1982) dalam proses belajar ada proses perubahan konsep yang mirip
dengan yang ada pada filsafat sains tersebut. Tahap pertama perubahan konsep
itu itu di sebut asimilasi dan tahap kedua di sebut akomodasi dengan asimilasi
siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punyai untuk berhadapan
dengan fenomena yang baru. Dengan akomodasi siswa merubah konsepnya yang tidak
cocok lagi dengan fenomena baru lagi yang mereka hadapi. Akomodasi di sebut
juga perubahan konsep secara radikal. Dimana syaratnya antara lain:
1)
Harus ada ketidakpuasaan terhadap konsep yang telah ada.
2) Konsep baru harus dapat dimengerti, rasional dan dapat
memecahkan persoalan atau fenomena yang baru.
3) Konsep yang baru harusmasuk akal, dapat memecahkan dan
menjawab persoalan yang terdahulu, dan juga konsisten dengan teori-teori
sebelumnya.
4) Konsep baru harus berdaya guna bagi perkembangan penelitian
dan penemuan baru.
b.
Teori Belajar Bermakna AUSUBEL
Menurut Ausubel dan Hanesian (1978) ada dua jenis belajar yaitu:belajar bermakna (meaningful learning), belajar menghapal (prote learning).Teori belajar Ausebel ini sangat dekat dengan inti pokok konsruktivisme.
Kedua-duanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman,
fenomena, dan fakta –fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah di punyai.
Kedua-duanya menekankan pentingnnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep yang
sudah dipunyai siswa. Keduannya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu
siwa aktif.
3.
SETS dan Sains,
Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat
Pendekatan Science,Technology and
Society (STS) atau pendekatan Sains,Teknologi dan Masyarakat (STM)
merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA,
Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. (Susilo,1999). Istilah Sains
Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology
Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains
Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun
sebenarnya intinya sama yaitu Environtment,yang dalam berbagai kegiatan perlu
ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu
antara sains,teknologi,dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari
pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal
pengetahuan,sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang
masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan
keputusan yang telah diambilnya
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
4.
Pemecahan
Masalah
Bentuk lain dari problem posing adalah
problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu
merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga
dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan,
menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
5.
Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah
proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling
bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan
masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang
menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif
(Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
6.
Tanya-jawab
Metode tanya jawab adalah
cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab,
terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada
guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang
mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada
siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”
Lebih lanjut dijelaskan pula oleh Sudirman
(1987:119) menyatakan bahwa metode
tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi
siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada
berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus,
ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.
Sementara itu, dalam Petunjuk Teknis Kurikulum 1994
(1996:26) dinyatakatan bahwa “metode
tanya jawab adalah suatu cara mengajar atau menyajikan materi melalui
pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi
tersebut.
Penggunaan metode ini dengan baik dan tepat,
akan dapat merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan metode
tanya jawab adalah:
1) Materi menarik dan menantang serta
memiliki nilai aplikasi tinggi.
2) Pertanyaan bervariasi, meliputi
pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan
terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban).
3) Jawaban pertanyaan itu diperoleh
dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
4) Dilakukan dengan teknik bertanya
yang baik. (Depdikbud, 1996:26).
Berdasarkan
pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode tanya jawab adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan
dengan cara pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk
memahami materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk
menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab harus
memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat
pada tingkah laku siswa.
b. Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
c. Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
d. Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak
menyimpang dari pokok persoalan.
e. Menyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.
Berdasarkan
langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam menggunakan metode tanya jawab harus
dipersiapkan secermat mungkin dalam bentuk rencana pengajaran yang detail
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyebutkan alasan penggunaan metode tanya jawab.
2. Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
3. Menyimpulkan jawaban siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum
dipahami.
5. Memberi pertanyaan atau kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang sifatnya
pengembangan atau pengayaan.
6. Memberi kesempatan pada siswa untuk
menjawab pertanyaan yang relevan dan sifatnya pengembangan
atau pengayaan.
7. Menyimpulkan materi jawaban yang relevan dengan tujuan
pembelajaran khusus.
8. Memberi tugas kepada siswa untuk
membaca materi berikutnya di rumah dan menulis pertanyaan yang akan diajukan pada pertemuan berikutnya.
Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam memberikan tanya
jawab adalahseorang guru dalam
memberikan tanya jawab harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Ciri pertanyaan yang baik antara lain :
1) Merangsang siswa untuk berpikir.
2) Jelas dan tindak menimbulkan banyak
penafsiran.
3) Singkat dan mudah dipahami siswa.
4) Disesuaikan dengan kemampuan siswa.
b. Teknik mengajukan pertanyaan antara lain :
1) Pertanyaan ditujukan pada seluruh siswa.
2) Memberi waktu yang cukup kepada
siswa untuk berpikir.
3) Usahakan setiap siswa diberikan
giliran menjawab.
4) Dilakukan dalam suasana rileks,
tidak tegang.
c. Sikap guru terhadap jawaban siswa antara lain :
1) Tafsirkan jawaban siswa ke arah yang baik.
2) Hargai secara wajar sekalipun jawaban siswa kurang tepat.
3) Pada saat tertentu berikan
kesempatan kepada siswa lain untuk menilai jawaban yang diberikan temannya.
d. Sikap guru terhadap pertanyaan siswa antara lain :
1) Memberikan keberanian kepada siswa
untuk bertanya.
2) Pertanyaan siswa perlu disusun secara keseluruhan.
3) Pertanyaan harus sesuai dengan tata tertib.
Agar
penggunaan metode tanya jawab menjadi efektif, ada beberapa hal penting yang perlu
mendapat perhatian guru, yakni:
1)
Mempersiapkan Pertanyaan:
1. Kuasai materi pelajaran yang akan ditanyakan.
2. Susunlah pertanyaan-pertanyaan
yang baik yang akan diajukan kepada siswa. Ciri-ciri pertanyaan yang baik adalah sebagai berikut:
a. Pertanyaan yang berhubungan dengan pokok atau topik materi yang
dibahas. Dalam hal ini, yang perlu ditanyakan
adalah bagian-bagian atau hal-hal penting dari topik atau pokok materi itu.
Usahakanlah tidak menanyakan sesuatu yang tidak penting.
b. Pertanyaan yang mudah dipahami siswa.
c. Setiap pertanyaan hendaknya berisi hanya satu pokok pikiran.
d. Gunakan kalimat yang singkat.
Hindarkan bahasa atau istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh siswa.
e. Pertanyaan hendaklah sesuai dengan taraf berpikir atau tingkatan
siswa.
f. Pertanyaan yang tidak terlampau mengehendaki jawaban atau fakta atau jawaban
ya atau tidak.
g. Pertanyaan yang dapat menumbuhkan respons bagi siswa untuk mencari
dan menemukan jawabannya.
h. Sekalipun dapat dilakukan bersamaan
pada waktu pengajuan pertanyaan,
sebaiknya rencanakanlah bentuk atau jenis pertanyaan yang akan diajukan sesuai dengan petunjuk taksonomi Bloom
sebagaimana yang telah dijelaskan.
2)
Mengajukan Pertanyaan Kepada Siswa
Dengan memperhatikan bentuk atau jenis pertanyaan
yang telah direncanakan, dalam mengajukan pertanyaan perlu diperhatikan
petunjuk berikut ini.
a.
Cara bertanya
a) Pemberian acuan (structuring)
Pertanyaan pemberian acuan (structuring) adalah
bentuk pertanyaan yang didahului dengan pertanyaan yang berisi
dan mendekati informasi sesuai dengan jawaban yang diharapkan, agar
siswa dapat menggunakan atau mengolah informasi itu untuk menemukan jawaban
pertanyaan.
b) Pemusatan (focusing)
Dilihat dari scope (lingkup materi) yang ditanyakan,
ada pertanyaan luas dan ada pertanyaan sempit. Dari pertanyaan
luas itu kita perlu memberi tekanan pada bagian-bagian tertentu yang penting
dalam bentuk pertanyaan. Inilah yang dinamakan pertanyaan
pemusatan (focusing).
c) Pemberian tuntunan (prompting)
Bila seorang siswa memberikan jawaban yang
salah atau kurang tepat, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu
agar dapat menemukan jawaban yang benar.
d) Mengadakan pelacakan
Mengadakan pelacakan dapat digunakan guru dengan pertanyaan
pelacak, yang termasuk keterampilan bertanya lanjut. Apabila jawaban
yang diberikan siswa dinilai oleh guru benar, tetapi masih dapat ditingkatkan
menjadi lebih sempurna, maka guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan
pelacak kepada siswa tersebut. Sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan
pelacak yang dapat digunakan guru, yakni: (a) klarifikasi, (b) meminta siswa
memberikan alasan, (c) meminta kesepakatan pandangan, (d) meminta ketepatan jawaban,
(e) meminta jawaban yang lebih relevan, (f) meminta contoh, dan (g)
meminta jawaban yang lebih kompleks.
3) Beberapa
teknik yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan
(1)
Mulailah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab dengan siswa.
Hindarkan suasana yang tegang atau yang dapat membuat siswa tercekam rasa
takut.
(2)
Penyampaian pertanyaan dengan tenang tetapi bersemangat dan dengan suara
yang jelas.
(3) Usahakan supaya
tidak sering mengulang pertanyaan, agar semua siswa selalu penuh
perhatian.
(4) Apabila terpaksa
menggunakan istilah asing yang belum diketahui siswa dalam rangkaian suatu
kalimat, jelaskanlah arti istilah itu, tetapi bukan penjelasan yang merupakan jawaban.
(5) Arahkan pertanyaan
kepada seluruh kelas.
(6) Dalam kenyataan,
pada akhir penjelasan bagian topik atau topik tertentu, guru sering memberi
kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Terhadap pertanyaan siswa
ini, beberapa teknik yang dapat dilakukan guru ialah:
(7) Usahakan agar guru
tidak langsung menjawabnya, maksudnya untuk merangsang berpikir siswa
lainnya. Berikanlah kesempatan siswa lainnya untuk menanggapi atau menjawabnya,
selanjutnya baru guru menyempurnakan jawaban itu apabila diperlukan.
(8) Rangsanglah agar
banyak siswa yang bertanya terhadap apa yang dibahas, agar siswa tidak
berada dalam keraguan selamanya.
4)
Bersikap yang baik terhadap jawaban siswa
1. Berikan waktu yang cukup bagi siswa
untuk memikirkan atau mencari jawaban.
2. Jangan memaksa siswa tertentu menjawab
dengan mendesaknya, sebab siapa tahu dia belum menemukan jawaban.
3. Apabila jawaban siswa tidak
benar, janganlah dibesar-besarkan kesalahan atau kelemahannya, sebab itu dapat
mematahkan semangatnya dan semangat siswa lainnya.
4. Berikan penguatan (reinforcement)
dengan segera terhadap jawaban siswa yang ada benarnya.
5. Penguatan verbal: seperti dengan
kata-kata: baik, benar, bagus, tepat, atau sempurna.
6. Penguatan nonverbal; seperti dengan
gerakan-gerakan mimik muka yang senyum, mengangguk-angguk, mengacungkan jempol,
menepuk-nepuk badan siswa atau berjalan dengan mendekati siswa.
7. Penguatan campuran (verbal dan
nonverbal); seperti sambil mengatakan benar atau bagus, ketika itu juga
mengacungkan jempol atau mengangguk-anggukkan kepala dan sebagainya.
5). Menilai
Tanya Jawab dan Tindak Lanjut
Setelah berlangsungnya tanya jawab
sebagai cara penyajian pelajaran kepada siswa, sebaiknya guru mengadakan
penilaian yang antara lain meliputi:
a. Apakah pertanyaan yang
diajukan dan jawaban siswa telah terarah sesuai dengan pokok materi yang
dibahas.
b. Apakah suasana cukup merangsang
siswa untuk berpikir.
c. Apakah berlangsung dalam suasana
yang menyenangkan.
d. Apakah tanya jawab itu
dapat membina keberanian dan keterampilan siswa dalam mengemukakan pendapat.
Selain itu dipandang penting pula
tindak lanjut dari tanya jawab, antara lain:
1) Guru
sebaiknya menjelaskan kembali secara keseluruhan tentang pokok materi yang
dibahas melalui Tanya jawab itu, terutama bagian-bagian penting
tertentu yang kiranya perlu mendapat penekanan dan kaitan satu bagian dengan
bagian-bagian lainnya.
2) Memberi
tugas tertentu lebih lanjut kepada siswa dengan tujuan agar siswa memperoleh
pengayaan dan pendalaman terhadap materi yang telah dibahas.
7.
Penugasan
Metode pemberian tugas adalah cara
mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu
pekerjaan.
8.
Karya Ilmiah
Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris
dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk
memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol.
v Metode ilmiah
merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah
Metode ilmiah
berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya.
Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi,
atau simpulan, bukan pula berdasarkan data atau fakta khusus. Proses
berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk
memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan
masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan
permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.
v Pada Metode
Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam metode ilmiah,
proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag.
Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya
masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses
berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan
berurutan.
v Metode ilmiah
didasarkan pada data empiris
Setiap metode
ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah
yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya,
yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia
data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila
sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah
bentuk metode ilmiah.
v Pada metode
ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di saat
melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol.
Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan
secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin
membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang
berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan
tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
Langkah-Langkah
Metode Ilmiah
Karena metode ilmiah dilakukan secara
sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan
secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan
secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah
sebagai berikut:
- Merumuskan masalah.
- Merumuskan hipotesis.
- Mengumpulkan data.
- Menguji hipotesis.
- Merumuskan kesimpulan.
· Merumuskan Masalah
Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?
· Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
· Mengumpulkan Data
Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.
· Menguji Hipotesis
Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipotesis itu sendiri.
· Merumuskan Kesimpulan
Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.
9.
Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode
pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses
bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode
pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar
yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas
sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat
kue, dan sebagainya.
Kelebihan Metode Demonstrasi :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode Demonstrasi :
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
Kelebihan Metode Demonstrasi :
a. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode Demonstrasi :
a. Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c. Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar