Selasa, 03 Januari 2017

tugas sbm 2



Nama               : Corry Anggraini
NIM                : ACC 114 017
Mata Kuliah    : Strategi belajar Mengajar

1.      Model Pembelajaran Inquiry (menemukan)

Pembelajaran berdasarkan inquiry merupakan seni penciptaan situasi-situasi sedemikian rupa sehingga siswa mengambil peran sebagai ilmuwan. Dalam situasi-situasi ini siswa   berinisiatif untuk mengamati dan menanyakan gejala alam, mengajukan penjelasan-penjelasan tentang apa yang mereka lihat, merancang dan melakukan pengujian untuk menunjang atau menentang teori-teori mereka, menganalisis data, menarik kesimpulan dari data eksperimen, merancang dan membangun model, atau setiap kontribusi dari kegiatan tersebut di atas.

Sund, seperti yang dikutip oleh Suryosubroto dalam Trianto (2009) menyatakan bahwa, Inquiry merupakan perluasan proses discovery, yang digunakan lebih mendalam,  inkuiry yang dalam bahasa InggrisInquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.
Gulo, (2005) menyatakan bahwa, strategi inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah :
1.      Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
2.      Keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar
3.      Mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam  proses inkuiri.


Kondisi Umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah :
1.      Aspek sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi.
2.      Inkuiri berfokus pada hipotesis
3.      Penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta )

Untuk menciptakan kondisi seperti itu, peranan guru adalah sebagai berikut:
1.      Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berfikir.
2.      Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan
3.      Penanya , menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat
4.      Administrator, bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan kelas
5.      Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan
6.      Manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas
7.      Rewarder, memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.
Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah kedalam waktu yang relative singkat, Hasil penelitian Schlenker dalam joice dan weil (1992) menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berfikir kreatif dan siswa menjadi trampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.

Konsep Dasar Strategi Pembelajaran Inquiry
Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pasti dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2009). Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Menurut Sanjaya (2009) bahwa strategi pembelajaran inquiry, memiliki beberapa ciri utama, yaitu:
1.      Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiry menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, akan tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
2.      Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Dalam strategi pembelajaran inquiry, guru bukan sebagai sumber belajar tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
3.      Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.
Strategi Pembelajaran Inkuri efektif apabila :
1.      Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
2.      Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi,akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3.      Jika proses pembelajaran berangkat dari ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4.      Jika akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemamuan dan kemampuan berpikir.
5.      Jika siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6.      Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.


Prinsip–prinsip Penggunaan Inquiri
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penggunaan inquiri menurut Sanjaya (2009).
1.      Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inquiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.

2.      Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
3.      Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inquiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berfikir.
4.      Prinsip Belajar untuk Berfikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
5.      Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.

Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Gulo (2005) menyatakan bahwa, inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan keterampilan.
Secara umum proses pembelajaran SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Orientasi
Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
a.       Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b.      Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
c.       Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

2.      Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

3.       Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

4.       Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

5.      Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

6.      Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

Langkah – langkah menerapkan model pembelajaran inquiry didalam kelas :

1.      Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektal dan keterampilan-keterampilan sosial.
2.      Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat mempelajarinya.
3.      Membentuk posisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.
4.      Merumuskan semua istilah yang terkandung di dalam proposisi kebijakan.
5.      Menyelidiki validitas logis dan konsisten internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.
6.      Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur proposes.
7.       Menganalisis solusi solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok.
8.      Menilai proses kelompok.
Kemudian pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya.

Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah:
1.        Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)
Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafoldingyang diperlukan oleh siswa.

2.       Inkuiri Bebas (free inquiry approach)
Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan. Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki. Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:

a.       Waktu yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah ditetapkan dalam kurikulum,
b.      Karena diberi kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam kurikulum,
c.       Ada kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa,
d.      Karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

3.      Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan (modified free inquiry approach)
Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.



2.      Kontruktivisme
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah kontruksi (bentukan) kita sendiri. Para konstruktivis menjelaskan bahwa satu-satunya alat yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah indrannya.  Seseorang berinteraksi dengan objek lingkungannya melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan melaksanakannya. Dengan sentuhan indrawi itu seseorang membangun gambaran duniawinya.Model pembelajaran konstruktivisme adalah suatu model pembelajaran yang dirancang yang mengharuskan terjadinnya proses belajar peserta didik yang proaktif. Menurut penganut konstruktivisme pengetahuan di bina secara aktif oleh seseorang yang berpikir . Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan fasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan imformasi baru atau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinnya melalui interaksi sosial dengan peserta didik lain atau dengan gurunya.
Menurut Schuman dalam Yulaewati (2004:54) konstuktivisme dikemukakan dengan pemikiran bahwa semua orang membangun pandangannya terhadap dunia melalui pengalaman individual, atau skema. Konstruktivisme menekannkan pada penyiapan peserta didik untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi yang tidak tentu.
Manfaat model pembelajaran kontruktivis antara lain:
a.       Membina peserta didik menjadi lebih mandiri.
b.      Mengembangkan daya kreatifitas peserta didik karena ia harus memperlihatkan hasil belajar atau karyannya
c.       Berlatih bekerja sama dengan tim anggota peserta didik lainnya (prawiradiaga 2007:5)
Menurut Tyler dalam Sumatowa (2006:54) menyatakan beberapa kebaikan pembelajaran berdasarkan konstruktivisme yaitu:
1)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri. Berbagi gagasan dengan temannya. Dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2)        Memberikan pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siwa memperluas pengetahuan-pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki (diberi)  kesempatan untuk merangkai fenomena.  Sehingga siswa didorong untuk membedakan untuk memebedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
3)        Memberi kesempatan siswa untuk berpikir tentang pengalamannya agar siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong merefleksi tentang teori dan model, mengenalkan gagasan IPA pada saat yang tepat.
4)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri untuk menggunakan berbagai konteks baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
5)        Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan-perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemampuan mereka serta memberi kesempatan untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
6)      Menberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapakan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu “jawaban yang benar”.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran konstruktivisme antara lain:
NO
Fase
Kegiatan/tingkah laku
I
Fase Eksplorasi
Dalam fase ini seorang guru memancing pengetahuan awal siswa mengenai materi yang akan dipelajari pada saat itu
1)      Guru memancing pengetahuan awal siswa melalui cerita yang diberikan
2)      Guru melakukan Tanya jawab dengan siswa mengenai perubahan kenampakan pada muka bumi
3)      Guru mengenalkan berbagai mecam benda yang ada di atas mejannya
II
Fase Klarifikasi
Pada fase ini imformasi berupa pengetahuan awal siswa diperdalm agar bias menambah pengetahuan siswa mengenai materi yang dipelajari
1)      Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
2)      Guru membimbing masing-masing kelompok dalam melakukan kegiatan praktis mengenai parubahan kanampakan pada bumi
3)      Masing-masing kelompok membecakan hasil diskusinnya
4)      Guru dan siswa menyimpilkan hasil diskusinya yang telah dipelajari
5)      Guru memberikan penghargaan kelompok
III
Fase Aplikasi
Pada fase ini guru mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dipelajari agar bias mengetahuai apakah perencanaan sesuai dengan pelaksanaan.
1)      Guru mengevaluasi kegiatan pembelajaran
2)      Melaksanakan kegiatan tindak lanjut

Hubungan konstruktivisme dengan beberapa teori belajar
 Seperti sudah dijalaskan diatas bahwa prinsip-prinsip konstruktivisme antara lain:
a.       Pengetahuan di bangun sendiri oleh siswa baik secara personal maupun social
b.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan oleh guru ke murid kecuali hannya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
c.       Murid akan mengkontruksi terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep.
d.      Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses kontruksi siswa berjalan lancar. inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar yaitu:
Konstruktivisme juga sangat erat hubungannya dengan beberapa teori belajar diantarannya :
a.                  Teori Perubahan Konsep
Menurut posner Dkk (1982) dalam proses belajar ada proses perubahan konsep yang mirip dengan yang ada pada filsafat sains tersebut. Tahap pertama perubahan konsep itu itu di sebut asimilasi dan tahap kedua di sebut akomodasi dengan asimilasi siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punyai untuk berhadapan dengan fenomena yang baru. Dengan akomodasi siswa merubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru lagi yang mereka hadapi. Akomodasi di sebut juga perubahan konsep secara radikal. Dimana syaratnya antara lain:
1)   Harus ada ketidakpuasaan terhadap konsep yang telah ada.
2)   Konsep baru harus dapat dimengerti, rasional dan dapat memecahkan persoalan atau fenomena yang baru.
3)   Konsep yang baru harusmasuk akal, dapat memecahkan dan menjawab persoalan yang terdahulu, dan juga konsisten dengan teori-teori sebelumnya.
4)   Konsep baru harus berdaya guna bagi perkembangan penelitian dan penemuan baru.
b.      Teori Belajar Bermakna AUSUBEL
Menurut Ausubel dan Hanesian (1978) ada dua jenis belajar yaitu:belajar bermakna (meaningful learning), belajar menghapal (prote learning).Teori belajar Ausebel ini sangat dekat dengan inti pokok konsruktivisme. Kedua-duanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta –fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah di punyai. Kedua-duanya menekankan pentingnnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep yang sudah dipunyai siswa. Keduannya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siwa aktif.

3.      SETS dan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat
Pendekatan Science,Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains,Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan  gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses, CBSA, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. (Susilo,1999). Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya sama yaitu Environtment,yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains,teknologi,dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan,sehingga mampu  mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah  diambilnya
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme,yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.




4.      Pemecahan Masalah
Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan  melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
                                                                                                           
5.      Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif (Gagne & Briggs. 1979: 251).
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.

6.      Tanya-jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,  tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan  bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,  tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”      
Lebih lanjut dijelaskan  pula oleh Sudirman (1987:119)  menyatakan bahwa metode tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.
Sementara itu, dalam Petunjuk Teknis Kurikulum 1994 (1996:26) dinyatakatan bahwa “metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar atau menyajikan materi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut.
Penggunaan metode ini dengan baik dan tepat,  akan dapat merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab adalah:
1)      Materi menarik dan menantang serta memiliki nilai aplikasi tinggi.
2)      Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan  dengan banyak kemungkinan jawaban).
3)      Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
4)      Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik. (Depdikbud, 1996:26).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode tanya jawab adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.



Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa.
b.      Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
c.       Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
d.      Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
e.       Menyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.

Berdasarkan langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam menggunakan metode tanya jawab harus dipersiapkan secermat mungkin dalam bentuk rencana pengajaran yang detail dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Menyebutkan alasan penggunaan metode tanya jawab.
2.    Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
3.    Menyimpulkan jawaban siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
4.     Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum dipahami.
5.    Memberi pertanyaan atau kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang sifatnya pengembangan atau pengayaan.
6.    Memberi kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang relevan dan sifatnya pengembangan atau pengayaan.
7.    Menyimpulkan materi jawaban yang relevan dengan tujuan pembelajaran khusus.
8.    Memberi tugas kepada siswa untuk membaca materi berikutnya di rumah dan menulis pertanyaan yang akan diajukan pada pertemuan berikutnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan tanya jawab adalahseorang guru dalam memberikan tanya jawab harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Ciri pertanyaan yang baik antara lain :
1)      Merangsang siswa untuk berpikir.
2)      Jelas dan tindak menimbulkan banyak penafsiran.
3)      Singkat dan mudah dipahami siswa.
4)       Disesuaikan dengan kemampuan siswa.

b.      Teknik mengajukan pertanyaan antara lain :
1)      Pertanyaan ditujukan pada seluruh siswa.
2)      Memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir.
3)      Usahakan setiap siswa diberikan giliran menjawab.
4)      Dilakukan dalam suasana rileks, tidak tegang.

c.       Sikap guru terhadap jawaban siswa antara lain :
1)      Tafsirkan jawaban siswa ke arah yang baik.
2)      Hargai secara wajar sekalipun jawaban siswa kurang tepat.
3)      Pada saat tertentu berikan kesempatan kepada siswa lain untuk menilai jawaban yang diberikan temannya.
                                                 
d.      Sikap guru terhadap pertanyaan siswa antara lain :
1)      Memberikan keberanian kepada siswa untuk bertanya.
2)      Pertanyaan siswa perlu disusun secara keseluruhan.
3)      Pertanyaan harus sesuai dengan tata tertib.

Agar penggunaan metode tanya jawab menjadi efektif, ada beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian guru, yakni:
1)    Mempersiapkan Pertanyaan:
1.    Kuasai materi pelajaran yang akan ditanyakan.
2.    Susunlah pertanyaan-pertanyaan yang baik yang akan diajukan kepada siswa. Ciri-ciri pertanyaan yang baik adalah sebagai berikut:
a.    Pertanyaan yang berhubungan dengan pokok atau topik materi yang dibahas. Dalam hal ini, yang perlu ditanyakan adalah bagian-bagian atau hal-hal penting dari topik atau pokok materi itu. Usahakanlah tidak menanyakan sesuatu yang tidak penting.
b.    Pertanyaan yang mudah dipahami siswa.
c.    Setiap pertanyaan hendaknya berisi hanya satu pokok pikiran.
d.    Gunakan kalimat yang singkat. Hindarkan bahasa atau istilah-istilah yang sulit dimengerti oleh siswa.
e.     Pertanyaan hendaklah sesuai dengan taraf berpikir atau tingkatan siswa.
f.      Pertanyaan yang tidak terlampau mengehendaki jawaban atau fakta atau jawaban ya atau tidak.
g.    Pertanyaan yang dapat menumbuhkan respons bagi siswa untuk mencari dan menemukan jawabannya.
h.    Sekalipun dapat dilakukan bersamaan pada waktu pengajuan pertanyaan, sebaiknya rencanakanlah bentuk atau jenis pertanyaan yang akan diajukan sesuai dengan petunjuk taksonomi Bloom sebagaimana yang telah dijelaskan.

2)    Mengajukan Pertanyaan Kepada Siswa
Dengan memperhatikan bentuk atau jenis pertanyaan yang telah direncanakan, dalam mengajukan pertanyaan perlu diperhatikan petunjuk berikut ini.
a.    Cara bertanya
a)      Pemberian acuan (structuring)
Pertanyaan pemberian acuan (structuring) adalah bentuk pertanyaan yang didahului dengan pertanyaan yang berisi dan mendekati informasi sesuai dengan jawaban yang diharapkan, agar siswa dapat menggunakan atau mengolah informasi itu untuk menemukan jawaban pertanyaan.
b)      Pemusatan (focusing)
Dilihat dari scope (lingkup materi) yang ditanyakan, ada pertanyaan luas dan ada pertanyaan sempit. Dari pertanyaan luas itu kita perlu memberi tekanan pada bagian-bagian tertentu yang penting dalam bentuk pertanyaan. Inilah yang dinamakan pertanyaan pemusatan (focusing).
c)      Pemberian tuntunan (prompting)
Bila seorang siswa memberikan jawaban yang salah atau kurang tepat, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar dapat menemukan jawaban yang benar.
d)     Mengadakan pelacakan
Mengadakan pelacakan dapat digunakan guru dengan pertanyaan pelacak, yang termasuk keterampilan bertanya lanjut. Apabila jawaban yang diberikan siswa dinilai oleh guru benar, tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi lebih sempurna, maka guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut. Sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan pelacak yang dapat digunakan guru, yakni: (a) klarifikasi, (b) meminta siswa memberikan alasan, (c) meminta kesepakatan pandangan, (d) meminta ketepatan jawaban, (e) meminta jawaban yang lebih relevan, (f) meminta contoh, dan (g) meminta jawaban yang lebih kompleks.

3)       Beberapa teknik yang perlu diperhatikan dalam mengajukan pertanyaan
(1)   Mulailah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan akrab dengan siswa. Hindarkan suasana yang tegang atau yang dapat membuat siswa tercekam rasa takut.
(2)   Penyampaian pertanyaan dengan tenang tetapi bersemangat dan dengan suara yang jelas.
(3)   Usahakan supaya tidak sering mengulang pertanyaan, agar semua siswa selalu penuh perhatian.
(4)   Apabila terpaksa menggunakan istilah asing yang belum diketahui siswa dalam rangkaian suatu kalimat, jelaskanlah arti istilah itu, tetapi bukan penjelasan yang merupakan jawaban.
(5)   Arahkan pertanyaan kepada seluruh kelas.
(6)   Dalam kenyataan, pada akhir penjelasan bagian topik atau topik tertentu, guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Terhadap pertanyaan siswa ini, beberapa teknik yang dapat dilakukan guru ialah:
(7)   Usahakan agar guru tidak langsung menjawabnya, maksudnya untuk merangsang berpikir siswa lainnya. Berikanlah kesempatan siswa lainnya untuk menanggapi atau menjawabnya, selanjutnya baru guru menyempurnakan jawaban itu apabila diperlukan.
(8)   Rangsanglah agar banyak siswa yang bertanya terhadap apa yang dibahas, agar siswa tidak berada dalam keraguan selamanya.

4)       Bersikap yang baik terhadap jawaban siswa
1.    Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk memikirkan atau mencari jawaban.
2.    Jangan memaksa siswa tertentu menjawab dengan mendesaknya, sebab siapa tahu dia belum menemukan jawaban.
3.    Apabila jawaban siswa tidak benar, janganlah dibesar-besarkan kesalahan atau kelemahannya, sebab itu dapat mematahkan semangatnya dan semangat siswa lainnya.
4.    Berikan penguatan (reinforcement) dengan segera terhadap jawaban siswa yang ada benarnya.
5.    Penguatan verbal: seperti dengan kata-kata: baik, benar, bagus, tepat, atau sempurna.
6.    Penguatan nonverbal; seperti dengan gerakan-gerakan mimik muka yang senyum, mengangguk-angguk, mengacungkan jempol, menepuk-nepuk badan siswa atau berjalan dengan mendekati siswa.
7.    Penguatan campuran (verbal dan nonverbal); seperti sambil mengatakan benar atau bagus, ketika itu juga mengacungkan jempol atau mengangguk-anggukkan kepala dan sebagainya.

5). Menilai Tanya Jawab dan Tindak Lanjut
Setelah berlangsungnya tanya jawab sebagai cara penyajian pelajaran kepada siswa, sebaiknya guru mengadakan penilaian yang antara lain meliputi:
a.       Apakah pertanyaan yang diajukan dan jawaban siswa telah terarah sesuai dengan pokok materi yang dibahas.
b.      Apakah suasana cukup merangsang siswa untuk berpikir.
c.       Apakah berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.
d.      Apakah tanya jawab itu dapat membina keberanian dan keterampilan siswa dalam mengemukakan pendapat.
Selain itu dipandang penting pula tindak lanjut dari tanya jawab, antara lain:
1)  Guru sebaiknya menjelaskan kembali secara keseluruhan tentang pokok materi yang dibahas melalui Tanya jawab itu, terutama bagian-bagian penting tertentu yang kiranya perlu mendapat penekanan dan kaitan satu bagian dengan bagian-bagian lainnya.
2)  Memberi tugas tertentu lebih lanjut kepada siswa dengan tujuan agar siswa memperoleh pengayaan dan pendalaman terhadap materi yang telah dibahas.




7.      Penugasan
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan.


8.      Karya Ilmiah
Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol.

v  Metode ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah
Metode ilmiah berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan  data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses selanjutnya.

v  Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.

v  Metode ilmiah didasarkan pada data empiris
Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.

v  Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
Langkah-Langkah Metode Ilmiah
Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
  1. Merumuskan masalah.
  2. Merumuskan hipotesis.
  3. Mengumpulkan data.
  4. Menguji hipotesis.
  5. Merumuskan kesimpulan.

·         Merumuskan Masalah

Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya.Permusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?

·         Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat memabntu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.

·         Mengumpulkan Data

Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.

·         Menguji Hipotesis

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementaradari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derjat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian.Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipotesis itu sendiri.

·         Merumuskan Kesimpulan

Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.


9.      Demonstrasi
Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran adalah bilamana seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatau proses. Misalnya bekerjanya suatu alat pencuci otomatis, cara membuat kue, dan sebagainya.
Kelebihan Metode Demonstrasi :
a.    Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
b.    Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c.    Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.

Kelemahan metode Demonstrasi :
a.    Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
b.    Tidak semua benda dapat didemonstrasikan.
c.    Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.
                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar